Rabu, 13 Januari 2010

रेलासी ManusiadanAlam

RELASI MANUSIA DAN ALAM
DALAM PRESPEKTIF AL-QUR`AN
Supriyatmoko, S. Th. I

A. Latar Belakang
Al-Qur`an adalah manifestasi Islam terpenting. Al-Qur`an menyerupai alam semesta dan karenya menjadi dunia di mana muslim hidup. Al-Qur`an menganjurkan manusia menerima pesan-pesannya dengan nalar kritis dan dalam kebebasan. Yang dikehendaki Allah pertama kali dengan al-Qur`an adalah untuk menyelamatkan manusia, bukan untuk memberi tugas kepadanya. Finalitas wahyu meniscayakan kecukupannya mennjadi pedoman dan panduan hidup manusia secara cerdas dan bertanggung jawab. Dan penafsiran merupakan sarana untuk menjembati jurang antara perkembangan kehidupan yang progresif dengan Kitab Suci yang telah baku.
Dewasa ini pandangan ulama tafsir dahulu dan sekarang, dalam menyikapi perubahan yang ada dalam masyarakat berbeda-beda. Itu sebabnya, sebagian mufassir kontemporer seperti Fazlur Rahman , Nasir Hamid Abu Zaid , Mohammad Arkoun dan Muhammad Syahrur , mengatakan perlu adanya reinterprestasi terhadap al-Qur`an dengan berbagai analisis. Hal ini untuk mendudukan al-Qur`an di atas solutif transformatif yang relevan sepanjang zaman.
Al-Qur`an merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara verbatin, baik kata-kata maupun maknanya. Sebagai kitab petunjuk (hudun li al-nas), al-Qur`an memilki posisi sentral dalam kehidupan manusia. Ia bukan saja sebagai landasan bagi pengembangan dan perkembangan ilmu-ilmu keislaman, namun juga merupakan sumber inspirasir gerakan-gerakan umat manusia berabad-abad.
Sebagai kitab kenabian, merupakan suatu kepastian di dalamnya mengandung prinsip-prinsip nenih-benih ilmu pengetahuan, juga memberikan peasan moral yang dapat diterapkan manusia dalam aktifitas kehidupan. Untuk dapat diterapk, al-Qur`an harus didialogkan dengan realitas manusia sekarang, dibatasi ruang dan waktu yang begitu jauh.
Di samping itu, problema masyarakat dahulu dan sekarang sungguh sangat berbeda. Itu sebabnya, sebagian mufassir
Hampir dua dasarwarsa terakhir ini, timbul kecemasan global yang singgah dalam hati dan pikiran seluruh umat manusia. Mereka cemas tentang kelangsungan hidup planet bumi tempat mereka berpijak, secara perlahan dan pasti menuju puncak kepunahan dan kerusakan yang akut. Dunia sedang berada di tepi tebing kehancuran lantaran ulah manusia yang semakin tak terkendali, bernafsu, serakah. Sumber-sumber alam dijarah diluar batas-batas kebutuhannya, demikian yang dikatakan Program Lingkungan PBB (UNEP) pada Global Forum on Ecology and Poverly, 1993. Kondisi bumi yang kita tempati ini semakin kronis dan mengancam makhluk hidup yang ada dibumi. Pada setiap detik, diperkirakan sekitar 200 ton karbondioksida dilepas ke atmosfir dan 750 ton topsoil musnah. Sementara itu, diperkirakan sekitar 47.000 hektar hutan dibabat habis. Sayyid Hossein Nasr, mengatakan bahwa hutan-hutan dibabat untuk digunakan untuk menulis sebagai aspek krisis lingkungan. Emha Ainun Nadjib juga pernah mengatakan, ketika hutan-hutan di Kalimantan dan Sumatera yang seluas Pranscis nyaris ludes dilalap api beberapa tahun lalu dan juga ketika hutan-hutan dibakar tanpa aturan, semua itu "dinikmati" oleh mereka yang berada diluar daerah . Hujan, banjir disertai dengan longsor adalah pemandangan 'mengerikan' yang sedang terjadi di negeri kita, begitu pula banjir lumpur panas, yang sedang terjadi di Sidoarja, dan banjir yang terjadi di Jember, Jawa Tengah sampai Ambon dan Sinjai, itu pada intiya kerusakanan alam yang terjadi, banyak disebabkan ketidaktataan kita mengelola alam .
Sebenarnya kalau kita melihat penjelasan diatas bahwa kerusakan alam yang terjadi sekarang ini, itu akibat dari ulah tangan manusia sendiri, dimana manusia belum bisa sepenuhnya menempatkan posisinya sebagai khalifah. Padahal manusia merupakan bagian dari segala hal yang ada dalam lingkungan hidup, antara manusia dengan segala zat, unsur dan keadaan yang ada dalam lingkungan hidup terdapat hubungnan timbal-balik sehingga merupakan suatu ekosistim. Hubungan timbal-balik antara manusia dan berbagai hal dalam ekosistem ini berada dalam suatu keseimbangan. Tetapi keadaan di dalam lingkungan selalu tumbuh mengganggu keseimbangan itu. Semula lingkungan hidup hanya mencakup lingkungan yang sudah ada secara alamiah akan tetapi dengan berjalannya waktu manusia memiliki kemampuan mengubah keadaan lingkungan . Manusia telah sejak lama memodifikasi alam untuk kepentingan hidupnya. Mulai dengan cara yang sangat sederhana, hanya mengambil secukupnya dari alam, sampai dengan cara modern dan mengeksploitasi terkadang jauh melebihi kemampuan alam itu sendiri. Manusia sebenarnya mulai sadar, bahwa perbuatan manipulasi lingkungan itu dapat menimbulkan berbagai krisis ekologi, bahwa sumber daya alam ada batasnya dan bahwa kerusakan lingkungan alamiah berakibat fatal bagi kelangsungan hidup umat manusia . Kemampuan manusia mengubah alam dan membuat hal-hal baru, turut mempengaruhi keseimbangan lingkungan hidup. Apabila lingkungan hidup terganggu keseimbangannya, maka timbullah reaksi dan bangkitlah kekuatan kekuatan balasan, baik dari alam sendiri maupun dari manusia, sehingga akhirnya lahirlah bencana. .
Dengan melihat penjelasan diatas, bahwa antara manusia dan alam mempunyai hubungan timbal balik dimana manusia dan alam sebagai satu ekosistem, yang mana prilaku manusia dalam mengelola alam sangat memperngaruhi keadaan alam dan manusia itu sendiri. Oleh karena itu penulis disini hanya akan mencoba membahas bagaimana hubungan manusia dengan alam dan prinsip-prinsip hubungan antara manusia dengan alam.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat penulis rumuskan sebagai berikut:
1. Term-term apa saja yang terdapat dalam al-Qur`an tentang manusia dan alam?
2. Bagaimana prinsip-prinsip hubungan antara manusia dengan alam?
3. Bagaimana al-Qur`an menyebut orang-orang yang berbuat kerusakan terhadap alam?


C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Tujuan utama penelitian ini tidak bisa lepas dari usaha menjelaskan persoalan-persoalan dalam rumusan masalah
1. Menjelaskan term-term manusia dan alam dalam al-Qur`an.
2. Menjelaskan prinsip-prinsip interaksi manusia dengan alam
3. Menjelaskan Al-Qur`an tentang penyebutan kepada orang-orang yang berbuat kerusakan kepada alam
Adapun kegunaan hasil penelusuran ini adalah untuk menguatkan posisi al-Qur`an sebagai kitab yang mengandung prinsip-prinsip ilmu pengetahuan yang relevan sepanjang masa.

D. Telaah Pustaka
Sepanjang pengetahuan penyusun, dari hasil telaah pustaka yang penulis lakukan, penyusun belum menemukan kajian yang secara khusus membahas tentang tema relasi manusia dan alam dalam perespektif al-Qur`an. Namun dengan segala kemampuan yang penyusun miliki, penyusun mencoba menelaah dari berbagai literature yang ada, tentunya yang ada kaitannya dengan masalah yang penyusun tulis, sehingga nantinya akan memperjelas bahwa permasalahan tersebut layak untuk diteliti lebih lanjut. Tulisan ini diharapkan akan bisa memberikan gambaran dan penjelasan yang lebih mendalam tentang permasalahan ini. Penulis ingin mengungkapkan beberapa buku dan jurnal yang pembahasanya masih ada kaitannya dengan penulisan ini, misalnya.
Buku karangan M. Quraish Shihab yang berjudul Wawasan al-Qur`an Tafsir Maudhu`i atas Perbagai Persoalan Umat, buku ini merupakan salah satu buku yang menggukapkan isinya dengan tema-tema tertentu, bisa dikatakan buku ini dalam menguraikan isinya dengan menggunakan pendekatan tematik atau maudhu`i yaitu pemilihan tema-tema tertentu. Dalam bukunya terdapat salah satu tema yang masih ada hubungannya dengan tema yang sedang ditulis yaitu istilah manusia dalam al-Qur`an, beliau mejelaskan bagaimana potensi-potensi yang terdapat dalam diri manusia dan juga menjelaskan fitrah manusia itu sendiri.
Telaah berikutnya adalah buku Ali Yafie, Menggagas Fiqh Sosial; dari Soal Lingkungan hidup, Asuransi hingga Ukhuwah yang mengungkap masalah lingkungan hidup yang kaitannya dengan tugas-tugas manusia sebagai khalifah. Ali Yafie menyebut fungsi manusia dalam tiga katagori; 1). Katagori perusak dengan mengutip surah al-Baqarah: 30 dan al-Rum: 41. 2). Manusia dipandang sebagai pencipta dan pembangun, terlihat dalam surah Hud: 60 dan al-Baqarah: 31. 3). Manusia dipandang sebagai pemelihara Ali Yafie menilai bahwa munculnya kerusakan lingkungan adalah akibat dari ulah manusia perusak dengan berbagai tuntunan verlandaskan fiqih Islam. Ali Yafie mengagas perlunya manusia mengenal baik dengan penciptanya. Manusia yang sudah menegenali Tuhan, maka seluruh pengabdiaanya akan terarah kepada ketulusan hati .
Buku Waryono Abdul Ghafur, dalam bukunya, Tafsir Sosial Mendialogkan Teks dengan Konteks, dalam bukunya Waryono menjelaskan tentang klasifikasi manusia dengan merujuk pada surat surat al-Fatihah:6-7, disini Waryono membagi tipelogi manusia menjadi dua yaitu Manusia yang mendapat petunjuk dan manuisa yang tidak mendapat petunjuk. Dan juga Waryono menjelaskan bagaimana hubungan manusia dengan manusia, dengan mengaitkanya etika berhubungan dengan tetangga . Dan juga tulisan Emil Salim, Islam dan Lingkungan Hidup, Emil menjelaskan dalam tulisannya tentang hubungan manusia dengan alam semesta dan hubungan manusia dengan sesamanya, Emil memaparkan perlunya manusia menjaga dan memelihara keseimbangan dan keselarasan di bumi, akan tetapi Emil tidak menejelaskan secara panjang lebar bagimana etika menjaga keseimbangan antara manusia dengan manusia dan alam sekitarnya .
Selajutnya buku tulisan M. Dawam Rahadja, dalam bukunya yang berjudul, Insan Kamil Konsepsi Manusia Menurut Islam, Dawam dalam buku ini hanya memaparkan penjelasan-penjelasan para penulis dahulu seperti Ibn Khuldun, Muthhari. Dalam bukunya dijelaskan bagaimana konsep manusia dalam al-Quran dengan melihat manusia sebagai makhluk budaya dan manusia sebagai makhluk religius .

E. Kerangka Teoritik
Manusia adalah makhluk sosial. Ayat kedua dari wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad Saw, dapat dipahami sebagai salah satu ayat yang menjelaskan manusia. Khalaqal insān min `alaq bukan saja diartikan sebagai “menciptakan manusia dari segumpal darah” atau “sesuatu yang berdempet di dinding rahim”, tetapi juga dipahami sebagai “diciptakan dinding dalam keadaan selalu bergantung kepada pihak lain atau tidak dapat hidup sendiri” . Setelah manusia terlahir di dunia, upaya untuk memahami dirinya telah berlangsung beribu-ribu tahun yang silam. Tetapi gambaran yang pasti dan menyakinkan tak mampu mereka peroleh, ketika mereka hanya mengandalkan daya nalar yang bersifat subyektif. Oleh karena itu mereka memerlukan pengetahuan dari pihak lain yang dapat memandang dirinya secara konverhensif . Dalam Kamus Bahasa Indonesia manusia adalah makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain) .
Pada hakekatnya posisi manusia terhadap sesamanya adalah sama dan sederajat, sama-sama ciptaan (makhluk) Allah dan karenanya dihadapan Allah semuanya sama, yang membedakannya hanyalah amal perbuatannya atau taqwanya saja. Oleh karena itu, secara individual hubungan manusia dengan manusia dengan manusia lainnya, masing-masing mempunyai kekuasaanya yang sama, setiap individu lainnya tidak boleh saling memaksa apalagi merampas hak-haknya. Hak individu untuk mempertahankan miliknya dilindungi oleh hukum, karena hak itu adalah bagian dari hak azazi manusia yang wajib dilindungi. .
Selnjuntnya istilah alam, jagat raya dalam bahasa inggris diistilahkn dengan universe. Istilah ini dialih bahasakan ke dalam bahasa Arab dengan `alam. Istilah alam dalam al-Qur`an hanya terdapat dalam bentuk jamak `alamin, disebut sebanyak 73 kali yang terdapat dalam 30 surat. Kata `alamin dalam al-Qur`an tidak sama dengan istilah `alam yang dimaksud kaum teolog dan kaum filosof Islam. Kaum teolog mendefinisikan `alam ialah segala sesuatu selain Allah. Sementara kaum filosof Islam mendefinisikannya dengan kumpulan jauhar yang tersusun dari maddat (materi) dan shurat (bentuk) yang ada dibumi dan dilangit. Sedangkan `alamin yang dimaksudkan al-Qur`an, sebagai kumpulan yang sejenis dari makhluk Allah yang berakal atau memiliki sifat-sifat yang mendekati makhluk yang berakal . M. Thalhah mendefinisikan alam dengan segala sesuatu yang diciptakan Tuhan baik itu yang tampak maupun tidak tampak. Sehingga Thalhah membagi alam menjadi dua yaitu alam gaib dan alam yang tampak. Alam gaib kemudian dibagi menjadi dua katagori yaitu Allah dan Malaikat. Allah tidak dapat dilihat siapa pun kecuali diri-Nya sendiri, sedang malaikat dapat dilihat malaikat lain, Allah dan orang-orang tertentu. Sedangkan alam yang tampak adalah dunia indrawi, yang mencakup segala sesuatu yang terlihat dalam kenyataan maupun secara prinsip . Dalam Islam, prinsip utama berkenaan dengan relasi manusia alam terjadi karena keseluruhan alam semesta itu memilki karakteristik yang sama dengan manusia yaitu " muslim:. Menurut al-Qur`an alam semesta adalah "muslim", karena ia menyerah kepada Allah. Melalui mekanisme tertentu alam menampakkan dirinya sebagai simbol atau tanda ketuhanan .
Kemudian alam atau lingkungan hidup tiada lain adalah alam semesta ciptaan Allah ini. Oleh karena itu harus dipahami secara utuh dan menyeluruh (holistik). Lingkungan hidup disebut sebagai sesuatu yang utuh, karena mempunyai bagian-bagian atau komponen-komponen. Secara eksplisit lingkungan terbagi menjadi dua yaitu lingkungan alam dan lingkungan binaan manusia. Lingkungan alam meliputi tanah, air, udara, tumbuhan dan hewan, sedangakan lingkungan binaan manusia adalah lingkungan yang meliputi kota, desa, perkebunan, industri dan juga lingkungan hidup social dimana manusia bermasyarakat . Interaksi antara manusia dengan alam sangat ditentukan oleh kemampuan berkomunikasi antar sesamanya. Selama berkomunikasi itu masih terdapat antagonisme kebiasaan-kebiasaan yang buruk, maka pergeseran sosial bisa sering terjadi sehingga terganggunya keseimbangan sosial yang menimbulkan ketegangan sosial itu sendiri. Keseimbangan dalam lingkungan alam dan lingkungan hidup sosial ini dapat terganggu oleh ulah perbuatan manusia. Manusia dalam hidupnya selalu membutuhkan bantuan orang lain, senantiasa berintraksi dengan lingkungan, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam. Interaksi dengan lingkungan sosial membuktikan bahwa manusia tanpa sesamanya tidak punya arti apa-apa. Sedangkan hubungan manusia dengan lingkungan alam, manusia membutuhkan sumber daya alam untuk eksistensi kehidupannya. Manusia membutuhkan air,udara, flora dan fauna, lahan dan sebagainya . Di lihat posisinya sebagai makhluk Tuhan, manusia dan alam pada hakikatnya mempunyai kedudukan yang sama, bahkan bagian dari diri manusia terbentuk dari unsur-unsur alam, sehingga manusia sering disebut sebagai micro-cositios, alam kecil yang mewakili semua unsur alam besar. Alam diciptakan Tuhan untuk manusia, seperti dalam al-Qur`an 2: 29 mengatakan :
•

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan dia Maha mengetahui segala sesuatu (Al-Baqarah:29)
Dengan demikian sebagai salah satu unsur yang membentuk dirinya maka alam semesta manjadi bagian dari diri manusia sendiri dan manusia diharapkan dapat menciptkan kemakmuran di muka bumi ini .

F. Metode Penelitian
1. Sumber Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka, sehingga sumber telaahnya pun kepustakaan. Karena ini langsung mengkaji al-Qur`an, maka sumber pustaka primernya adalah Kitab Suci al-Qur`an. Sedangkan sumber sekundernya adalah kitab-kitab tafsir yang dianggap representatif dengan penelitian ini seperti Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab, Tafsir al-Qur`an karya Ismail bin Katsir al-Quraisyi al-Dimasqi, Tafsir al-Azhar karya Hamka dan kitab-kitab tafsir lainya.
Adapun rujukan utama, untuk menganalisis makna kata-kata dan term-term tertentu dari ayat-ayat al-Qur`an adalah al-Mufradat fi Alfadhi al-Qur`an karya Abu Qasim al-Husin bin Muhammad al-Raghib al-Asfahani.
Sedangkan sumber sekundernya adalah buku-buku, jurnal, artikel, media elektronik yang secara langsung atau pun tidak langsung berkenaan dengan obyek penelitian ini.
2. Metode Pendekatan
Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode tafsir maudu`i. Metode ini merupakan jalan tengah untuk mengatasi problem yang dihadapi masyarakat saat ini. Metode maudu`i adalah metode tafsir yang berupaya menelusuri jawaban suatu problem tertentu, dengan cara menghimpun seluruh ayat yang dimaksud, kemudian menganalisisnya melalui ilmu-ilmu bantu yang relevan dengan masalah tersebut, selanjutnya menghadirkan konsep utuh dari al-Qur`an tentang masalah tertentu .
Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam metode maudu`i ini ini sebagai berikut. 1) Menetapkan tema tentang relasi manusia dan alam yang akan ditemukan jawabannya dalam al-Qur`an. 2) Mengumpulkan ayat-ayat yang berkenaan secara langsung atau tidak langsung dengan tema yang penulis bahas. 3). Memilih dan mengelompokkan ayat-ayat ke dalam sub-sub tema itu menjadi pembahasan yang utuh dan menyatukan dalam satu alur pemikiran sistematik. 4) Menganalisis secara sintetik untuk menemukan inti dan keterhubungan antar konsep 5) Untuk mendukung analisis tentang tema relasi manusia dan alam, juga dipertimbangkan hadis-hadis Nabi dan pendapat Sarjana Muslim yang berkenaan dengan masalah yang di bahas.
Kemudian untuk membantu menghasilkan penafsiran yang dinamis dan relevan maka dalam riset ini penulis menggunakan pendekatan filasafat etika. Sebab bagaimana pun persoalan lingkungan sangat terkait dengan pemikiran filsafat masyarakat yang memiliki ragam bahasa dan budaya. Disamping itu penulis juga menggunakan pendekatan sosiologis dimana dalam pendekatan ini penulis berusaha melakukan sebuah analisis terhadap fakta dan pristiwa yang sedang berkembang dalam realitas kehidupan masyarakat.

G. Sistematika Pembahasan
Pertama membahas latar belakang dari keinginan penulis untuk meneliti persoalan ini. Kemudian disertakan tujuan dan kegunaan penelitian. Disertakan pula telaah pustaka, untuk membuktikan originalitas penelitian atau pun setidaknya membuktikan bahwa penelitian sebelumnya belum memuaskan penulis. Di samping itu, yang termasuk sangat urgen adalah telaah landasan teori yang relevan dan metode penelitian untuk menunjang terlaksanaanya penelitian dengan baik.
Kedua, penulis berupaya mengungkap term-term manusia yang ada dalam al-Qur`an dan tujuan diciptakannya manusia baik sebagai khalifah maupun sebagai `Abd. Ketiga, dalam bab ketiga penulis mencoba mencari term-term alam yang terdapat dalam al-Qu`an, kemudian setelah menemukan term-term tersebut penulis melanjutkan dengan penelitian tujuan diciptakan alam itu sendiri. Keempat, dalam bab empat ini penulis lebih mengfokuskan pada pola hubungan antara manusia dengan alam, dengan memasukan beberapa konsep yaitu al-`Adallah, Islah, Tawazun dan al-Intifa`. Kemudian dilanjutkan dengan pembahasan tentang pandangan al-Qur`an terhadap orang-orang yang berbuat kerusakan, disini penulis mencoba mencari label bagi orang-orang yang berbuat kerusakan terhadap alam dengan menggali dari al-Qur`an. Kelima, merupakan penutup dari bagian tesis ini. Bab ini merupakan kesimpulan dan jawaban dari permasalahan yang diangkat, serta saran dari penuli.




















RENCANA PEMBAHASAN
BAB. I. Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
D. Telaah Pustaka
E. Kerangka Teoritik
F. Metode Penelitian
G. Sistematika Pembahasan
BAB II. Manusia Dalam Al-Qur`an
A. Istilah Manusia
1. Basyar
2. Insan
3. Bani Adam
B.Tujuan diciptakan Manusia
1. Manusia Sebagai Khalifah
a. Menegakkan Agama
b. Mengatur Urusan dunia
2. Manusia Sebagai `Abd
BAB III. Alam Dalam Al-Qur`an
A. Al-Ardhi
B. Al-Sama`
C. Al-Ma`
D. Tujuan Diciptakan Alam
BAB IV. Pola Hubungan Manusia Dengan Alam
A. Prinsip-Prinsip Hubungan Manusia Dengan Alam
1. Al-`Adallah
2. Tawazun
3. Islah
4. Al-Intifa`
B. Pandangan Manusia Terhadap Alam (historis)
C. Istilah Al-Qur`an Bagi Orang yang Merusak Alam
1. Fasiq
2. Fajr
3. Dzalim
BAB V. Penutup
A. Kesimpulan
B. Saran






DAFTAR PUSTAKA
Abdul Ghafur, Waryono, Tafsir Sosial Mendialogkan Teks dengan Konteks, Yogyakarta: Elsaq Press, 2005

Asy`ari, Musa, Filsafat Islam Sunnah Nabi dalam Berpikir, Yogyakarta: LESFI, 2002

Admojo, Wihidi, dkk, Kamus Pintar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1989

Harahap, Adnan, dkk, Islam dan Lingkungan Hidup, Jakarta: C.V Fatma Press, 1997

Ismuha, Keserasian Lingkungan Hidup, Jakarta: Mimbar Citra Media Islam, 1981

Rahadja , M. Dawam, Insan Kamil Konsepsi Manusia Menurut Islam, Jakarta: PT. Grafika Pers, 1985

Salim, Emil, Islam dan Lingkungan Hidup, al-Jami`ah, No. 24, 1980

Shihab, M. Quraish, Wawasan al-Qur`an Tafsir Maudhu`i atas Perbagai Persoalan Umat, Jakarta: Mizan, 2006

-----------, Membumikan al-Qur`an (Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat), Bandung: Mizan, 1994

Siasah Masruri, Muhsinatun, dkk, Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta, 2002

Syafi`I, Imam, Manusia Ilmu dan Agama Sebuah Pendekatan Konseptual dan Kontekstual (Jakarta: Quantum Press, 2007
Yafie, Ali, Menggagas Fiqih Sosial; dari Soal Lingkungan hidup, Asuransi hingga Ukhuwah, Jakarta: Mizan, 1999

----------, dkk, Islam dan Lingkungan Hidup, Jakarta: Yayasan Swarna Bhumy, 1997

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar