Senin, 14 Januari 2013

PENGERTIAN AL-QUR’AN, FUNGSI AL-QUR’AN DAN BUKTI KEOTENTIKAN AL-QUR`AN


PENGERTIAN AL-QUR’AN, FUNGSI AL-QUR’AN DAN BUKTI KEOTENTIKAN AL-QUR`AN
Pengertian Al-Qur’an
Ø  Secara Bahasa (Etimologi)
Merupakan mashdar (kata benda) dari kata kerja Qoro’a yang bermakna Ta’ala (keduanya berarti: membaca), atau bermakna Jama’a (mengumpulkan, mengoleksi). Anda dapat menuturkan Qoro’a Qor’an Wa Qur’aanan sama seperti anda menuturkan, Ghofara Ghafran Wa Qhufroonan. Berdasarkan makna pertama (Yakni: Taala) maka ia adalah Mashdar (kata benda) yang semakna dengan Ism Maf’uul, artinya matwul (yang di baca). Sedangkan berdasarkan makna kedua ( Yakni: Jama’a) maka ia adalah Mashdar dari Ism Fa’il, artinya Jaami’ (pengumpul, pengoleksi) karena ia mengumpulkan atau mengoleksi berita-berita dan hukum-hukum.[1]
Secara Bahasa Qara’a mempunyai arti yaitu mengumpulkan  atau menghimpun menjadi satu.Kata Qur’an dan Qira’ah keduanya merupakan masdar infinitive diambil dari kata lampau (Fi’il Madhi) yaitu:Qara’a–Qiraatan-Quranan
Kata
Qur’an bisebutkan dalam ayat:
¨bÎ) $uZøŠn=tã ¼çmyè÷Hsd ¼çmtR#uäöè%ur ÇÊÐÈ   #sŒÎ*sù çm»tRù&ts% ôìÎ7¨?$$sù ¼çmtR#uäöè% ÇÊÑÈ  
Artinya: “Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya dan membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannyaitu.”(QS.Al-Qiyamah:17-18)
Kata Qur’an pada ayat di atas berarti qira’atuhu yaitu bacaannya atau cara membacanya.
Dari segi bahasa, terdapat berbagai pendapat para ahli mengenai pengertian Al-Qur-an. Sebagian berpendapat, penulisan lafal Al-Qur-an dibubuhi huruf hamzah (dibacaالقرأّّن). Pendapat lain mengatakan penulisannya tanpa dibubuhi huruf hamzah (dibacaالقران). As-Syafi`i, al-Farro, dan al-`Asy`ari termasuk diantara para ulama yang berpendapat bahwa lafal Al-Qur-an ditulis tanpa huruf hamzah. [2]
Al-Syafi`i mengatakan, lafal al-Qur-an yang terkenal itu bukan musytaq(pemecahan dari akar kata apapun) dan bukan pula berhamzah (tanpa tambahan huruf hamzah ditengahnya , jadi dibaca al-Qur-an). Lafal tersebut sudah lazim digunakan dalam pengertian Kalamulloh yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Dengan demikian menurut al-Syafi`i, lafal tersebut bukan berasal dari akar kata qoro-a (membaca), sebab kalau akar katanya qoro-a, tentu tiap sesuatu yang dibaca dapat dinamai al-Qur-an . lafal tersebut memang nama khusus bagi al-Qur-an, sama dengan nama Taurat dan Injil. [3]
Al-Farro, sebagaimana al-Syafi`i berpendapat bahwa al-Qur-an bukanmusytaq dari kata qoro-a, tetapi pecahan dari kata qoro`in (jamak dari qorinah) yang berarti; kaitan, karena ayat-ayat al-Qur-an satu sama lain saling berkaitan. Karena itu huruf nun pada akhir lafal al-Qur-an adalah huruf asli bukan huruf tambahan. Dengan demikian, kata al-Quran itu dibaca dengan bunyi al-Quran.
Di antara para ulama yang berpendapat bahwa lafal al-Qur-an di tulis dengan tambahan huruf hamzah diengahnya adalah al-Zajjaj, dan al-Lihyani. [4]
Menurut al-Zajjaj, lafal al-Qur-an ditulis dengan huruf hamzah ditengahnya berdasarkan pola kata (wazn) fu`lan. Lafal tersebut bentukan (musytaq) dari akar kata qor`un yang berarti jam`un. Selanjutnya ia mengemukakan contoh kalimat quri`al ma`u fil haudi yang artinya: air itu dikumpulkan dalam kolam. Dalam kalimat ini kata qor`un bermakna jam`un yang dalam bahasa Indonesia bermakna kumpul. Alasannya, Al-Qur-an “mengumpulkan” atau “menghimpun” intisari kitab-kitab suci terdahulu.[5]
Sebagaimana al-Zajjaj, al-Lihyani berpendapat bahwa lafal al-Qur-an ditulis dengan huruf hamzah ditengahnya berdasarkan pola kata ghufron dan merupakan pecahan (musytaq) dari akar kata qoro-a yang bermakna talaa (تلا / membaca). Lafal al-Qur-an digunakan untuk menamai sesuatu yang dibaca, yakni objek dalam bentuk masdar.[6]
Pendapat terakhir ini adalah pendapat yang lazim dipegang oleh masyarakat pada umumnya. Sejalan dengan pendapat tersebut Hasbi Ash-Shiddieqy mengatakan, al-Qur-an menurut bahasa, ialah bacaan atau yang dibaca. Al-Qur-an adalah masdar yang diartikan dengan arti isim marfu`, yaitu maqruu, yang dibaca. Menurut Shubhi As-Sholih, pendapat ini lebih kuat dan lebih tepat, karena dalam bahasa Arab lafal al-Qur-an adalah bentuk masdar yang maknanya sinonim dengan qiro`ah, yakni bacaan. [7]
Untuk memperkuat pendapatnya ini, subhi Asholih mengutip ayat yang berbunyi:
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ. فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ.
Artinya : “Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.”

             Terdapat berbagai macam definisi Qur’an, diantaranya definisi menurut Abdul Wahhab Khalaf Al-Qur’an yaitu firman Allah yang diturunkan kepada Rasulullah Saw dengan perantara Jibril dalam bahasa Arab. Dan, menjadi undang-undang bagi manusia, memberi petunjuk kepada mereka, dan menjadi sarana untuk melakukan pendekatan diri dan ibadah kepada Allah. Ia terhimpun dalam mushaf, dimulai dari surat Al- Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas disampaikan kepada kita secara mutawatir dari generasi ke generasi, baik secara lisan maupun tulisan, serta terjaga dari perubahan dan pergantian
.
Ø  Secara Syari’at (Terminologi)
Al-qur’an adalah Kalam Allah ta’ala yang diturunkan kepada Rasul dan penutup para Nabi-Nya, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas.
Allah ta’ala berfirman:
$¯RÎ) ß`øtwU $uZø9¨tR y7øn=tã tb#uäöà)ø9$# WxƒÍ\s? ÇËÌÈ  
Artinya:“Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur’an kepadamu (hai Muhammad) dengan beransur-ansur.” (al-Insaan:23)
Dan firmannya:
!$¯RÎ) çm»oYø9tRr& $ºRºuäöè% $wŠÎ/ttã öNä3¯=yè©9 šcqè=É)÷ès? ÇËÈ  
Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (Yusuf:2)
Allah ta’ala telah menjaga al-Qur’an yang agung ini dari upaya merubah, menambah, mengurangi atau pun menggantikannya. Dia ta’ala telah menjamin akan menjaganya sebagaimana dalam firman-Nya:
$¯RÎ) ß`øtwU $uZø9¨tR tø.Ïe%!$# $¯RÎ)ur ¼çms9 tbqÝàÏÿ»ptm: ÇÒÈ  
Artinya:“Sesunggunya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (al-Hijr:9)
Oleh kerana itu, selama berabad-abad telah berlangsung namun tidak satu pun musuh-musuh Allah yang berupaya untuk merubah isinya, menambah, mengurangi atau pun menggantinya. Allah SWT pasti menghancurkan tabirnya dan membuka tipu dayanya.Allah ta’ala menyebut al-Qur’an dengan sebutan yang banyak sekali, yang menunjukkan keagungan, keberkatan, pengaruhnya dan keuniversalannya serta menunjukkan bahwa ia adalah pemutus bagi kitab-kitab terdahulu sebelumnya.
Allah ta’ala berfirman:
ôs)s9ur y7»oY÷s?#uä $Yèö7y z`ÏiB ÎT$sVyJø9$# tb#uäöà)ø9$#ur tLìÏàyèø9$# ÇÑÐÈ 
         Artinya: “Dan sesunguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang [814] dan al-Qur’an yang agung.” (al-Hijr:87)
[814] Yang dimaksud tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang ialah surat Al-Faatihah yang terdiri dari tujuh ayat. sebagian ahli tafsir mengatakan tujuh surat-surat yang panjang Yaitu Al-Baqarah, Ali Imran, Al-Maaidah, An-Nissa', Al 'Araaf, Al An'aam dan Al-Anfaal atau At-Taubah.
Dan firman-Nya:
úX 4 Éb#uäöà)ø9$#ur ÏÉfyJø9$# ÇÊÈ  
Artinya: “Qaaf, Demi al-Quran yang sangat mulia.” (Qaaf:1)
Dan firman-Nya:
ë=»tGÏ. çm»oYø9tRr& y7øs9Î) Ô8t»t6ãB (#ÿr㍭/£uÏj9 ¾ÏmÏG»tƒ#uä t©.xtFuŠÏ9ur (#qä9'ré& É=»t6ø9F{$# ÇËÒÈ  
Artinya: “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memerhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Shaad:29) [8]
A.     Turunnya Al-Qur’an
Pertama kali Qur’an turun adalah pada tanggal 17 Ramadhan. Bertepatan dengan usia Nabi yang ke 40 tahun. Ketika itu Nabi sedang beribadah di gua Hira tiba-tiba dating malaikat Jibril dengan membawa wahyu . ia memeluk kemudian melepaskan Nabi demikian berulang sampai tiga kali setiap kali Jibril berkata: “Bacalah” dan setiap kali pula Nabi menjawab: “Aku tidak bisa membaca”. Kemudian pada kali yang ketiga , Jibril berkata kepada Nabi , “Bacalah dengan nama Tuhan-Mu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan tuhan-Mu amat pemurah. Yang mengajarkan menulis dengan pena. Yang mengajarkan kepada manusia apa yang tiada diketahuinya. [9]
Demikian wahyu pertama dan sekaligus turunnya Al-Qur’an yang permulaan. Sebelum itu, telah dating tanda-tanda dan isyarat, wahyu telah dekat dan sebagai bukti kenabian untuk Rasul yang mulia. Bahwa setiap mimpi Rasulullah SAW
Demikian wahyu pertama dan sekaligus turunnya Al-Qur’an yang permulaan. Sebelum itu, telah dating tanda-tanda dan isyarat, wahyu telah dekat dan sebagai bukti kenabian untuk Rasul yang mulia. Bahwa setiap mimpi Rasulullah SAW terjadi dalam kenyataan , persis seperti yang beliau mimpikan. Selain itu, kesukaan beliau menyendiri . maka beliau menyepi di Gua Hira’ untuk menyembah Tuhan-Nya. [10]
Turunnya al-Qur’an yang kedua kali secara bertahap, berbeda dengan kitab-kitab yang sebelumnya, al-Qur’an turun secara berangsur-angsur untuk menguatkan hati Rasul dan menghibur nya serta mengikuti peristiwa dan kejadian-kejadian sampai Allah menyempurnakan agama ini dan mencukupkan nikmat-Nya.
B.    Fungsi dan Kedudukan Al-Qur’an

           Fungsi utama dari al-Qur'an adalah sebagai petunjuk dan sumber
hidayah. Selain itu Al-Qur'an memiliki fungsi lainnya, antara lain:
1.       Kitab yang berisi berita
2.       Kitab yang berisi hukum syariat 
3.       Kitab yang berisi pendidikan 
4.       Kitab yang berisi ilmu pengetahuan

Fungsi al-qur’an setelah rasullulah wafat , yang tertinggal adalah Al-qur’an yang terjaga dari penyimpangan dan pemutarbalikan fakta agar di pakai sebagai petunjuk dan pedoman dalam mengarungi dunia fana ini. Firman Allah SWT dalam (QS.AL-A’raf:158)

ö@è% $ygƒr'¯»tƒ ÚZ$¨Z9$# ÎoTÎ) ãAqßu «!$# öNà6ös9Î) $·èŠÏHsd Ï%©!$# ¼çms9 ہù=ãB ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ( Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ¾ÇósムàMÏJãƒur ( (#qãYÏB$t«sù «!$$Î/ Ï&Î!qßuur ÄcÓÉ<¨Y9$# ÇcÍhGW{$# Ï%©!$# ÚÆÏB÷sム«!$$Î/ ¾ÏmÏG»yJÎ=Ÿ2ur çnqãèÎ7¨?$#ur öNà6¯=yès9 šcrßtGôgs? ÇÊÎÑÈ  
Artinya: Katakanlah: "Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk".

Nama-nama Al-qur’an, baik secara langsung maupun tidak langsung  memperlihatkan fungsi Al-qur’an. Dari sudut isi atu substansinya, fungsi Al-quran sebagai tersurat dalam nama-namanya adalah sebagai berikut:
A.    Al-Huda (Petunjuk)
Dalam Al-qur’an terdapat tiga kategori tentang posisi Al-Qur’an sebagai petunjuk. Pertama, petunjuk bagi manusia secara umum. Kedua, Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Ketiga petunjuk bagi orang-orang yang beriman.
B.     Al-Furqan (pemisah)
Dalam Al-Qur’an di katakana bahwa ia adalah yang membedakan dan memisahkan anatara yang hak dan yang bathil atau antara yang benar dan yang salah.
C.     Al-Syifa (Obat)
Al-Qur’an dikatakan berfungsi sebagai obat bagi penyakit yang ada di dalam dada ( yang dimaksud adalah penyakit psikologi).
D.    Al-Mau’idzoh (Nasehat)
Dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa ia berfungsi sebagai nasehat bagi orang-orang yang bertaqwa.

Demikian fungsi Al-Qur’an yang di ambil dari nama-nama yang di firman Allah dalam Al-Qur’an. Sedangkan fungsi Al-Qur’an dari pengalaman dan penghayatan trhadap isinya bergantung pada kualitas  ketaqwaan individu yang bersangkutan.[11]

C.    Bukti Keotentikan Al-Qur’an

Al-Quran Al-Karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satu diantaranya adalah ia merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah SWT, dan ia adalah kitab yang selalu dipelihara. “Inna nahnu nazzalna al-dzikra wa inna lahu lahafizhun” (sesungguhnya kami yang menurunkan Al-Quran dan kamilah pemelihara-pemelihara-Nya).
Demikianlah Allah menjamin keotentikan Al-Quran, jaminan yang diberikan atas dasar kemahakuasaan dan Kemahatahuan-Nya, serta berkat upaya-upaya yang dilakukan oleh mahluk-mahluk-Nya, terutama oleh manusia. Dengan jaminan ayat diatas, setiap muslim percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya sebagai Al-Qur’an tidak berbeda sedikit pun dengan apa yang pernah dibaca oleh Rasulullah SAW dan yang didengar serta dibaca oleh para sahabat Nabi SAW.
Tetapi dapatkah kepercayaan itu didukung oleh bukti-bukti lain dan dapatkah bukti-bukti itu meyakinkan manusia, termasuk mereka yang tidak percaya akan jaminan Allah diatas . Tanpa ragu kita mengiyakan pertanyaan diatas.
v  Bukti-bukti dari Al-Quran Sendiri.
Dr. Mustafa Mahmud, mengutip pendapat rasyad Khalifah, mengemukakan bahwa didalam Al-Quran sendiri terdapat bukti-bukti sekaligus jaminan keotentikannya. Huruf-huruf hija’iyah yang terdapat pada awal beberapa surat dalam Al-Quran adalah jaminan keutuhan Al-Quran sebagaimana diterima Rasullulah SAW. Tidak berlebih dan atau berkurang satu huruf pun dari kata-kata yang digunakan oleh Al-Quran. Kesemuanya habis terbagi 19, sesuai dengan sejumlah huruf-huruf  B(i)sm All(a)h Al-R(a)hm(a)n Al-R(a)him. (Huruf a dan i dalam kurung tidak tertulis dalam aksara bahasa Arab). Kata Ism terulang sebanyak  19 , Allah sebanyak 2698 sama dengan 142 X 19, sedangkan kata Al-Rahman sebanyak 57 atau 3 X19 dan Al-Rahim sebanyak 114 atau sama dengan 6 X 19.
·         Huruf (qaf) yang merupakan awal dari surah ke-50, ditemukan terulang sebanyak 57 kali atau 3 X 19
·         Huruf-huruf (Kaf), (ha’), (ya’), (‘ayn), (shad) dalam surat Maryam, ditemukan sebanyak 798 kali atau 42 X 19
·         Huruf (nun) yang memulai surat yang memulai surat Al-Qalam, ditemukan sebanyak 133 atau 7  X 19
·         Kedua huruf (Ya’) dan (Sin)  pada surat Yasin masing-masing ditemukan sebanyak 285 atau 15 X 19.
·         Kedua huruf (Tha’) dan (ha’) pada surat Thaha masing-masing berulang sebanyak 342 atau 18 X 19
·         Huruf-huruf (ha’) dan (mim) yang terdapat pada keseluruhan surat yang dimulai dengan kedua huruf ini, ha’ mim, kesemuanya merupakan perkalian dari 114 X 19, yakni masing-masing berjumlah 2166
Bilangan-bilangan ini, yang dapat ditemukan langsung dari celah ayat Al-Quran, oleh Rasyad Khalifah, dijadikan sebagai bukti keotentikan Al-Quran. Karena, seandainya ada ayat yang berkurang atau berlebih atau ditukar kata dan kalimatnya dengan kata atau kalimat lain, maka tentu perkalian-perkalian tersebut akan menjadi kacau. Angka 19 merupakan perkalian dari jumlah-jumlah yang disebut itu, diambil dari pernyataan Al-Quran sendiri, yakni yang termuat dalam surat Al-Muddatssir ayat 30 yang turun dalam konteks ancaman terhadap seorang yang meragukan kebenaran Al-Quran.
v  Bukti-bukti Kesejarahan
Al-Quran Al-Karim turun dalam masa sekitar 22 tahun atau tepatnya, menurut sementara Ulama, dua puluh dua tahun, dua bulan dan dua puluh dua hari. Ada beberapa faktor yang merupakan faktor-faktor pendukung bagi pembuktian otentisitas Al-Quran, yaitu :
1.      Masyarakat Arab, yang hidup pada masa turunnya Al-Quran, adalah masyarakat yang tidak mengenal baca tulis. Karena itu, satu-satunya andalan mereka adalah hafalan. Dalam hal hafalan, orang Arab bahkan sampai kini dikenal sangat kuat.
2.      Masyarakat Arab khususnya pada masa turunnya Al-Quran –dikenal sebagai masyarakat sederhana dan bersahaja, kesederhanan ini, menjadikan mereka memiliki waktu luang yang cukup, disamping menambah ketajaman pikiran dan hafalan.
3.      Masyarakat Arab sangat gandrung lagi membanggakan kesusastraan, mereka bahkan melakukan perlombaan-perlombaan dalam bidang ini pada waktu-waktu tertentu.
4.      Al-Quran mencapai tingkat tertinggi dari segi keindahaan bahasanya dan sangat mengagumkan bukan saja bagi orang mukmin, tetapi juga orang kafir. Berbagai riwayat menhyatakan bahwa tokoh-tokoh kaum musyrik seringkali secara sembunyi-sembunyi berupaya mendengarkan ayat-ayat Al-Quran yang dibaca oleh kaum muslim. Kaum muslim disamping mengagumi keindahan bahasa Al-Quran, juga mengagumi kandungannya, serta menyakini bahwa ayat-ayat Al-Quran adalah petunjuk kebahagiaan dunia dan akhirat.
5.      Al-Quran, demikian pula Rasul saw., menganjurkan kepada kaum muslim untuk memperbanyak membaca dan mempelajari Al-Quran dan anjuran tersebut mendapat sambutan yang hangat.
6.      Ayat-ayat Al-Quran turun berdialog dengan mereka, mengomentari keadaan dan peristiwa-peristiwa yang mereka alami, bahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Di samping itu, ayat-ayat Al-Quran turun sedikit demi sedikit. Hal itu lebih mempermudah pencernaan maknanya dan proses penghafalan.
7.      Dalam Al-Quran, demikian pula hadist-hadist Nabi, ditemukan petunjuk-petunjuk yang mendorong para sahabatnya untuk selalu bersikat teliti dan hati-hati dalam menyampaikan berita – lebih-lebih kalau berita tersebut merupakan firman Allah atau sabda Rasul-Nya.
Faktor-faktor diatas menjadi penunjang terpeliharanya dan dihafalkannya ayat-ayat Al-Quran. Itulah sebabnya, banyak riwayat sejarah yang menginformasikan bahwa terdapat ratusan sahabat Rasulullah SAW yang menghafalkan Al-Quran. Bahkan dalam peperangan Yamamah, yang terjadi beberapa saat setelah wafatnya Rasul SAW Telah gugur tidak kurang tujuh puluh orang penghafal Al-Quran. Walaupun Nabi SAW dan para sahabat menghafal ayat-ayat Al-Quran, namun untuk menjamin terpeliharanya wahyu-wahyu Ilahi itu, beliau tidak hanya menggandalkan hafalan, tetapi juga tulisan. Sejarah menginformasikan bahwa setiap ada ayat turun, Nabi SAW, lalu memanggil sahabat-sahabat yang dikenal pandai menulis, untuk menuliskan ayat-ayat yang baru saja diterimanya, sambil menyampaikan  tempat dan urutan setiap ayat dalam surahnya. Ayat-ayat tersebut mereka tulis dipelepah kurma, batu, kulit-kulit atau tulang-tulang binatang. Kepingan naskah tulisan yang diperintahkan rasul itu, baru dihimpun dalam bentuk kitab pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar r.a. atau usul Umar Ibn Al-Khaththab, yang menunjuk Zaid Ibn Tsabit sebagai ketua tim penyusunan Al-Quran.Abu Bakar r.a. memerintahkan kepada seluruh kaum muslimin untuk membawa naskah tulisah ayat Al-Quran yang mereka miliki ke Masjid Nabawi. Naskah yang diterima harus memenuhi dua syarat yaitu:
1. Harus sesuai dengan hafalan para sahabat.  
2. Tulisan tersebut benar-benar adalah tulisan atas perintah dan ditulis dihadapan  Nabi SAW. Untuk membuktikan syarat kedua harus adanya dua orang saksi mata.
Dengan demikian, dapat dibuktikan dari tata kerja dan data-data sejarah bahwa Al-Quran yang kita baca sekarang ini adalah otentik dan tidak berbeda sedikitpun dengan apa yang diterima dan dibaca Rasulullah saw lima belas abad yang lalu.[12]


BAB III
KESIMPULAN

1.      Al-qur’an adalah Kalam Allah ta’ala yang di turunkan kepada Rasulullah dan penutup para Nabi-Nya, Muhammad SAW di awali dengan surat Al-fatihah dan di akhiri dengan surat an-Naas.
2.      Turunnya Al-Qur’an yang pertama kali pada malam lailatul qodar merupakan pemberitahuan kepada alam tingkat tinggi yang terdiri dari malaikat-malaikat akan kemuliaan umat Muhammad
3.      Fungsi utama dari al-Qur'an adalah sebagai petunjuk dan sumber hidayah. Selain itu Al-Qur'an memiliki fungsi lainnya, antara lain: Kitab yang berisi berita, kitab yang berisi hukum syariat, kitab yang berisi pendidikan, dan kitab yang berisi ilmu pengetahuan.
4.      Al-Qur’an Al-Karim turun dalam masa sekitar 22 tahun atau tepatnya, menurut sementara ulama, 22 tahun 2 bulan 22 hari.
5.      Bukti Keotentikan Al-Qur’an merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah SWT, dan ia adalah kitab yang selalu dipelihara. “Inna nahnu nazzalna al-dzikra wa inna lahu lahafizhun” (sesungguhnya kami yang menurunkan Al-Quran dan kamilah pemelihara-pemelihara-Nya).







DAFTAR PUSTAKA

Ash Shobun, Muhammad Ali. 1988. Ikhtisar Ulumul Qur’an Praktis. Jakarta: Pustaka Amani.
Azhim, Abdul Al-Zulqaniy. 1980. Manahil Al-‘Irfani ’Ulum Al-Qur’an dan Hadist jilid 1. Kairo
Halim, Abdul Mahmud. 1988. Al-Tafkir Al- Falsafiy fi Al-Islam Dar Al-Kitab Al-Lubnaniy. Beirut
Husain, Muhammad Al-Thabathabaly.1981. Al-Qur’an fi Al-Islam Markaz I’lam Al-Dzikra Al-Khamisah li Intizhar Al-Tsawrah Al-Islamiyah hal 175. Teheran
Subhi Ash-sholih. 1991. Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur-an, (terjemahan) Tim Pustaka Firdaus dari judul asli Mabahits fi Ulum al-Qur-an. Jakarta: Pustaka firdaus.
T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy. Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran/Tafsir,. Jakarta: Bulan Bintang.










[1] ‘Abdul Azhim Al-Zarqaniy, Manahil Al-‘Irfani I’Ulum Al-Qur’an, Al-Halabiy, (Kairo,1980, jilid 1), hlm .250.
[2] Subhi Ash-sholih, Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur-an (terjemahan) Tim Pustaka Firdaus dari judul asli Mabahits fi Ulum al-Qur-an (Jakarta:Pustaka Firdaus, 1991) Cet 2, hlm 10.
[3] Ibid, hlm11
[4] Ibid hlm 11
[5] Ibid hlm 11
[6] T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran/Tafsir, (Jakarta: Bulan Bintang) cet. 5. Hlm 15

[7] Op cit hlm 11
[8] ‘Abdul Azhim Al-Zarqaniy, Manahil Al-‘Irfani I’Ulum Al-Qur’an, Al-Halabiy, Kairo,1980, jilid 1, hlm .252.
[9] Muhammadi Ali Ash Shobuni, Ikhtisar Ulumul Qur’an Praktis, (Jakarta: Pustaka Amani, 1988), hlm 18.

[10] Ibid hlm 19
[11] Abdul Halim Mahmud.Al-Tafkir Al-Falsafiy fi Al-Islam Dar AL-Kitab Al-Lubnaniy.Beirut, t.t., h. 50
[12] Muhammad Husain Al-Thabathabaly. Al-Qur’an fi Al-Islam Markaz I’lam Al-Dzikra Al- Khamisah li Intizhar AL-Tsawrah Al- Islamiyah.Teheran, hlm.175